Intel dan Pembisik Rasul udzaifah ibnul Yaman adalah salah satu di antara sekian banyak sahabat Rasul yang memiliki keistimewaan. Selain cerdas, Hudzaifah adalah pemuda yang tabah. Sifat ini sudah ia tunjukkan sejak kecil. Panasnya gurun pasir juga menempa dirinya menjadi seorang pemuda yang tegar. Paduan sifat inilah yang menyebabkan hatinya langsung terpaut dengan kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah saw.
Hijrahnya Rasul dari Makkah ke Madinah terdengar sampai ke tempat tinggal Hudzaifah dan keluarganya. Setelah meneliti dengan cermat berita tentang kenabian Muhammad, bersama ayah dan saudaranya, Hudzaifah berangkat menemui Nabi. Dengan mudah mereka mendapatkan hidayah Allah dan bersyahadah, “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”
Hudzaifah terdidik di tangan Rasulullah dengan kalbu yang terbuka sehingga tak satu pun persoalan hidup yang tersembunyi baginya. Bakat intuisinya yang tajam benar-benar tumbuh tanpa tercampur sedikit pun dengan khurafat. Ia berhasil mencapai suatu keahlian dalam membaca tabiat dan watak seseorang hanya dengan melihatnya sekilas.
Hudzaifah berkata, “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepada beliau tentang kejahatan karena saya takut akan terlibat di dalamnya.” Hudzaifah pernah bertanya, “Wahai Rasulallah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan. Lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan. Apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan?” “Ada!” jawab Rasulullah, “Yaitu para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam api neraka.” “Apakah setelah kejahatan masih ada kebaikan?” tanya Hudzaifah. “Ada, tetapi kabur dan berbahaya,” jawab Rasulullah. “Apakah bahaya itu?” tanya Hudzaifah. “Yaitu segolongan umat mengikuti sunnah tetapi bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk tetapi bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah!” jawab Rasulullah. Hudzaifah bertanya, “Lalu apakah yang harus saya perbuat?” Rasul menjawab, “Hendaklah engkau mengikuti jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.“ “Bagaimana kalau mereka tidak mempunyai jama’ah dan pemimpin?” tanya Hudzaifah lagi. “Hendaklah engkau tinggalkan golongan itu semua walaupun engkau tinggal di dalam rumpun kayu sampai menemui ajal dalam keadaan demikian.”
Sungguh, Hudzaifah telah dikaruniai pikiran yang jernih, kepekaan hati, dan ketajaman lisan. Sehingga sampailah ia pada suatu kesimpulan bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik adalah yang jelas dan gamblang. Sebaliknya, yang buruk adalah yang gelap dan samar-samar. Orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber pembisik fitnah dan kejahatan serta liku-likunya. Dengan demikian ia dapat menganalisa kehidupan ini dan membaca karakter pribadi manusia serta meraba situasi dan kondisi dengan intuisi Ilahi.
Karena kepiawaiannya itu, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya untuk memata-matai musuh dalam Perang Khandak. Dalam suasana mencekam bercampur kegelisahan dan kelaparan di kalangan para sahabat, ia menyusup ke tengah-tengah perkemahan musuh. Di tengah kegelapan dan kesunyian malam yang mencekam itu, tiba-tiba terdengar seruan Abu Sufyan, pemimpin kaum kufar, “Wahai segenap golongan kaum Quraisy, hendaklah masing-masing kalian mengenal kawan duduknya!”
Mendengar seruan itu, Hudzaifah langsung bangkit dan menjabat tangan laki-laki yang duduk di samping kiri kanannya seraya berkata, “Siapa kamu?” Dengan demikian ia mengamankan dirinya di tengah-tengah musuh. Beliau pun berujar,”Kalau tidak karena ingat dengan pesan Rasulullah, tentu saya akan membunuh Abu Sufyan dengan anak panah.”
Menurut sebagian riwayat, sepeninggal Rasulullah, para sahabat tidak mau menshalatkan seseorang yang meninggal kalau tidak dijumpai Hudzaifah dalam barisan shalat tersebut. Mereka khawatir jangan-jangan yang mereka shalatkan termasuk golongan orang-orang munafik.
Ketika Khalifah Umar bin Khattab berkuasa, Hudzaifah diangkat menjadi gubernur Madain. Di hari pertamanya ia berpesan ke segenap penduduk Madain, “Jauhilah tempat-tempat fitnah!“ Mereka bertanya,”Di manakah tempat-tempat fitnah itu, ya Aba Abdillah?” Hudzaifah menjawab, ”Pintu rumah para pembesar! Kalian masuk menemui mereka dan mengiyakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tidak pernah mereka lakukan.”
Hudzaifah Ibnul Yaman adalah seorang intel dan pembisik Rasul, seteru kemunafikan kawan keterbukaan yang mampu mendeteksi sifat nifak seseorang. Banyak di antara para sahabat yang bertanya kepadanya kalau-kalau ada sisa sifat nifak dalam diri mereka.
Hudzaifah Ibnul Yaman pernah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah membangkitkan Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Diserunya manusia dari kesesatan kepada kebenaran, dari kekafiran kepada keimanan. Lalu yang menerima mengamalkannya, sehingga dengan kebenaran itu yang mati menjadi hidup dan dengan kebathilan yang hidup menjadi mati. Kemudian masa kenabian berlalu, dan datanglah masa kekhalifahan. Setelah itu tiba zaman pemerintahan yang durjana. Di antara manusia ada yang menentang, baik dengan tangan, lisan maupun dengan hatinya. Merekalah yang benar-benar menerima yang haq. Di antara mereka ada yang menentang dengan hati dan lisannya saja, tanpa mengikutsertakan tangannya. Maka golongan ini telah meninggalkan salah satu cabang dari yang haq. Ada pula yang menentang dengan hatinya saja, maka golongan ini telah meninggalkan dua cabang dari yang haq. Ada pula yang tidak menentang, baik dengan tangan, lisan maupun hatinya, maka golongan ini adalah mayat-mayat yang bernyawa.”
Kecintaan dan loyalitas Hudzaifah terhadap Islam tidak perlu diragukan lagi. Beliau tercatat sebagai pahlawan dalam Perang Badar, Uhud, Khandak, Tabuk, dan sekian banyak peperangan lainnya. Ketika beliau mengikuti pertempuran menaklukkan Armenia dan Azarbeijan, dalam perjalanan ia mendengar pertikaian kaum muslim tentang bacaan beberapa ayat Al-Quran. Keadaan ini mengagetkan Hudzaifah. Ketika kembali ke Medinah, ia segera menemui Utsman bin Affan dan menceritakan kejadian itu. Khalifah Utsman segera memerintahkan beberapa sahabat untuk menulis kembali mushaf Al-Quran sehingga umat Islam selamat dari perselisihan tersebut. Inilah wujud nyata kecintaannya terhadap Al-Quran dan umat Islam.
Pada suatu hari di tahun 36 H, tatkala Hudzaifah tengah berkemas untuk melakukan perjalanan terakhir, masuklah beberapa sahabat. Ia bertanya kepada mereka, “Apakah tuan-tuan memiliki kain kafan?”, “Ada!” jawab mereka. “Aku mau melihatnya!” ujar Hudzaifah..Ketika dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah di kedua bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan. Ia berkata, “Kain kafan ini tidak cocok untukku. Cukuplah dua helai kain putih tanpa baju. Aku tidak akan lama berada di dalam kubur. Pakaianku akan segera diganti dengan yang lebih baik atau yang lebih buruk.”Ketika para sahabat mendekatkan telinga mereka terdengarlah senandung:
“Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di waktu rindu. Hati bahagia tak ada keluh sesalku”. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” Seandainya para pemimpin umat ini mau meneladani sifat dan karakter Hudzaifah ibnul Yaman, niscaya mereka akan dapat menjaga ukhuwah Islamiyah seraya terhindar dari pembisik-pembisik yang berkeliaran di sekeliling mereka. Karena mereka memiliki intuisi Ilahi yang mampu mendeteksi sifat nifak, baik pada diri sendiri, kawan maupun lawan. Dengan demikian, walau seberat apa pun krisis yang menimpa bangsa ini, insya Allah dapat ditemukan jalan keluarnya. Amin.