Bila burung-burung lari dari para pemburu karena takut menjadi target buruan, maka sesungguhnya potret pemandangan anak-anak Palestina sejatinya tidak jauh berbeda dari keadaan dan kondisi burung-burung yang lari beterbangan dari bidikan para pemburu tersebut. Anda akan menyaksikan mereka berlarian menyebar ke berbagai arah menghindari terjangan peluru yang secara sporadis dimuntahkan oleh tank-tank Imperialis Israel. Sementara kaum ibu kebingungan mencari anak-anak mereka, kaum laki-laki sibuk mencari tempat berlindung buat anak-anak dan keluarga mereka. Kaum muda mencari tempat-tempat persembunyian segera mungkin di rumah-rumah atau jalan-jalan pertama yang mampu diinjak kaki mereka. Kaum pedagang terpaksa harus meningggalkan kios-kios dan toko-toko mereka tanpa sempat menutup pintu-pintunya karena takut dan menyelamatkan diri dari tank-tank yang datang karena tidak tahu tank mana yang akan memuntahkan peluru.

Gambaran semacam ini terjadi di hampir setiap kota Palestina ketika mendengar suara deru tank-tank Imperialis Israel. Datang menderu memaklumatkan dimulainya pendudukan baru sambil melepaskan tembakan membabi buta yang membuat ketakutan anak-anak dan kaum wanita. Hal ini berlangsung, apabila tank-tank Imperialis Israel masuk wilayah Palestina pada siang hari. Namun bila serbuan ke kota-kota dan desa-desa Palestina terjadi menjelang pagi. Pemandangan akan sedikit berbeda. Walaupun yang menjadi korban adalah mereka-mereka juga, tidak jauh berbeda. Bapak-bapak sibuk mencari tempat aman buat anak-anaknya. Ibu-ibu mendekap bocah-bocah mereka. Yang membedakan adalah di malam hari suara deru dan desingan berasal dari salak senjata-senjata yang membelah keheningan malam. Kadang-kadang suara salak senjata ini bercampur dengan seruan adzan subuh, lebih sengit dari siang hari. Namun peluru-peluru yang berterbangan itu bagaikan daun-daun pohon yang berhamburan saat diterjang angin puyuh yang menggila, masuk ke setiap rumah tanpa membeda-bedakan antara anak-anak dan orang dewasa, antara laki-laki dan wanita, membunuh dan mengeluarkan siapa saja yang telah ditakdirkan berada di jalur terjangan peluru-peluru.

Inilah pemandangan di kota-kota Palestina saat terjadi serangan pendudukan secara mendadak dan bertubi-tubi sejak usai aksi militer Israel yang disebut oleh jenderal pasukan pendudukan sebagai "operasi tembok pertahanan" (al jidar al wiqa'i). Dalam hal ini, mereka tidak berjanji kapan melakukan penyerbuan dan penyerangan; bisa sekarang atau sesaat kemudian, di malam hari atau siang hari, kapan saja, setiap saat. Bisa jadi anak-anak dekat bersama ibunya atau jauh darinya.

Inilah kondisi akibat aksi pendudukan yang dialami kota-kota Palestina yang terus terjajah sekarang ini. Bila aksi terjadi di siang hari, maka para pelajar dan mahasiswa masih berada di sekolah-sekolah dan kampus-kampus, ibu-ibu sedang pergi ke pasar-pasar, para pekerja dan karyawan masih di tempat kerja, anak-anak di tempat-tempat penitipan yang biasanya jauh dari pusat kota. Hal ini menimbulkan kecemasan dan kegalauan hati di antara para warga sipil Palestina yang tidak sempat memulangkan anak-anak mereka ke rumah-rumah, kecuali menantang bahaya.

Lembaga-lembaga HAM Palestina dalam sejumlah laporannya yang terakhir mengisyaratkan bahwa kota-kota, desa-desa serta kamp-kamp pengungsi Palestina mengalami lebih dari 100 kali aksi pendudukan sejak 24 April 2002 usai aksi yang disebut oleh teroris Sharon sebagai operasi "pagar pertahanan" (as sur al wiqa'i).

Seorang guru wanita di sebuah sekolah negeri wanita di Bethlehem, Iman Su'aid mengatakan, "Saya benar-benar kehilangan konsentrasi saat memberikan pelajaran kepada para siswi. Tak seharipun berlalu kecuali tank-tank imperialis Israel melakukan penyerbuan dan menduduki kota tempat kami tinggal. Seperti biasanya saya titipkan puteri kecil saya, Sujja, yang belum sampai berumur dua tahun di sebuah panti penitipan bayi dekat masjid Bilal, utara kota Bethlehem sementara tempat saya kerja dekat Gereja Al Mahdi."

Sepanjang bekerja dia merasa selalu dihantui ketakutan dan kecamasan, takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada putri kecilnya ataupun pada janin dalam kandungannya yang baru berumur enam bulan. Lebih-lebih setelah mendengar sejumlah ibu-ibu hamil yang kehilangan janinnya karena panik dan kacaunya situasi akibat serangan brutal dan sporadis yang dilakukan oleh serdadu-serdadu imperialis Israel selama aksi pendudukan dan pencaplokan kota-kota Palestina. Belum lagi ditambah tanggungjawabnya atas para siswi yang belajar di sekotah dasar yang rata-rata umur mereka belum genap 12 tahun.

Saat terjadi pendudukan, menurutnya, hal yang dilakukan para guru adalah menenangkan para siswi. Kemudian menghubungi para wali murid seraya sebisa mungkin tetap menjaga ketenangan mereka. "Kami berupa melupakan segala hal yang terkait dengan diri kami agar dapat menenangkan para siswi. Meskipun suara-suara tembakan terus mendesing dan tank-tank terus berderu."

Ada kisah lain dari Ummu Hamdan, ibu enam anak yang sebagian di antaranya masih berada di sekolah. Dia berkata bahwa hampir-hampir dia kehilangan harapan selama minggu-minggu ujian yang berakhir 10 Juni lalu. Pikirannya terpusat pada apa yang akan terjadi setiap hari selama anak-anaknya berada di ruang ujian.

Tidak seperti biasanya, ibu Palestina yang mencemaskan anak-anak ini menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah. Kali ini dia harus sibuk menghubungi pertelepon ke sekolah-sekolah tempat anak-anaknya belajar, menghubungi suaminya, saudara-saudaranya dan atau mendengarkan berita serta mengikuti siaran televisi untuk mengetahui berita aksi-aksi pendudukan Imperialis Israel di kota-kota Palestina. "Selama anak-anakku berada di luar rumah, sedetik dalam hidup ini terasa setahun lamanya, saya lebih mengkhawatirkan anak-anak saya daripada kondisi saya sendiri," sambungnya.

Kemudian dia menambahkan, "Suatu ketika, saat tank-tank Israel masuk kota dengan sangat terpaksa saya keluar jalan kaki di bawah terik matahari, di tengah-tengah tank-tank yang melepaskan tembakan secara sporadis dan brutal ke segala arah, mencari anak-anak yang pulang beberapa jam setelah perasaan takut, cemas dan khawatir menyergapku akibat desingan peluru dan deru tank-tank Israel."

Menurut Abu Hamdan, keadaan mencekam ini mirip seperti "hati kiamat". Anak-anak dan siapa saja yang berada di dalam kota mengalaminya beberapa saat sebelum penyerangan biadab Imperialis Israel. Semua orang berhamburan masing-masing mencari perlindungan ke tempat-tempat yang aman. Menjauhakn dari marabahaya akibat terjangan peluru-peluru Imperialis Israel.

"Saya tidak pernah akan melupakannya sepanjang hidupku," katanya. "Menyaksikan seorang bocah terbirit-birit menjinjing di kedua tangannya peralatan sekolah. Bocah itu nampak menuju ke sekolah untuk mengikuti ujian. Ia berusaha berlindung di balik pohon di tengah kota sambil berteriak dan menangis tanpa bisa bergerak saking takutnya sampai seorang warga Palestina menghampirinya dan membawanya menjauh dari terjangan peluru-peluru Imperialis Israel. Pada saat itulah saya membayangkan salah seorang anak saya berada di bawah terjangan peluru lalu minta pertolongan kepada siapa saja…"

"Saat itu saya sudah tidak bisa mengendalikan diri," tambah Abu Hamdan. "Saya tidak bisa bergerak ataupun pergi menyelamatkan anak-anakku. Sementara saya tahu mereka dalam bahaya besar, namun peluru-peluru yang dimuntahkan oleh tank-tank Israel terbang ke segala penjuru, melumpuhkan setiap gerakan yang memungkinkan untuk melakukan sesuatu."

Pemandangan lain dikisahkan oleh Aiman At Tamimi. "Saya masih ingat betul malam itu. Tank-tank Imperialis Israel melepaskan tembakan ke rumah saya pagi dini hari ketika kami sedang tidur. Peluru-peluru beterbangan menerjang rumah. Saya berusaha menerobos menyusup keluar kamar tidurku menuju kamar tidur anak-anak yang menangis, meski kaca berserakan di lantai akibat terjangan peluru-peluru Imperialis Israel."

"Terpaksa saya harus merayap di atas pecahan kaca untuk melindungi anak-anak menjauh dari tembakan peluru," tambahnya. "Namun sampai di tengah jalan, saya tidak mampu mengontrol diri. Isteri saya menangis menjerit sendirian. Sementara peluru-peluru terus menghujani masuk ke rumah dari segala arah. Dan sudah pasti anak-anak menjerit keras saking kagetnya oleh gema desingan peluru, suara yang membangunkan mereka sebelum kemudian mereka tahu apa yang terjadi."

Pihak rejim Imperialis Israel membenarkan aksi pendudukan dan pencaplokan kota-kota Palestina dengan alasan mencari orang-orang yang menjadi target penangkapan karena melakukan aksi teror serta untuk melumpuhkan aksi-aski bom syahid yang dilakukan para pejuang perlawanan rakyat Palestina. Namun, kebanyakan aksi yang mereka lakukan tidak punya alasan yang jelas, kecuali menciptakan ketakutan dan kecemasan, menimbulkan kepanikan, musibah kerusakan hak milik warga Palestina. Tank-tank masuk kota-kota Palestina, menduduki serta merampasnya dari warga Palestina, melepaskan tembakan ke segala penjuru yang barang kali saja tidak bisa dinalar oleh siapapun. Namun kenyataannya mereka telah meninggalkan kehancuran, ketakutan dan kepanikan.

Selama bulan Mei 2002 saja, lembaga HAM Palestina mengisyaratkan bahwa militer Imperialis Israel telah menangkap 330 warga Palestina dalam serangkaian aksi pendudukan, di antaranya sebanyak 60 anak-anak dan 12 wanita. Semua itu mereka lakukan dengan dalih mencari orang-orang yang menjadi target penangkapan karena melakukan aksi teror. (Seto)

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help