ReviewAKU BAHAGIA DALAM ISLAM !!!Feb 26, '07 2:09 AM
for everyone
Category:Other
AKU BAHAGIA DALAM ISLAM !!!

Aku Bahagia dalam Islam

Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi


Keputusan paling besar yang pernah kulakukan dalam hidupku ternyata
juga merupakan suatu hal yang luar biasa sederhana. Mengucapkan dua
kalimat syahadat ini, kulakukan setahun lalu di depan dua orang saksi. "Aku
bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah Rasul-Nya."Ucapku, dan mulai saat itu, aku menjadi seorang Muslim.

Antara yakin dan sedikit tidak percaya dengan apa yang telah
dilakukannya, Hilary Saunders berusaha untuk menjajaki kembali keputusannya.
Mualaf asal Inggris dan wartawati Al Jazeera itu berada dalam kegamangan.
Negeri Yordanlah yang akan menjadi saksi keteguhan iman yang telah
menjadi pilihannya.

Hingga detik saat mengucapkan syahadat itu, ia masih belum sepenuhnya
yakin bahwa itulah yang ingin ia lakukan. "Bagaimana kalau suatu pagi
aku terbangun dan berubah pikiran? Mungkinkah aku akan merasa telah
melakukan sebuah kesalahan besar?"

Tetapi nyatanya dia merasakan betapa telah berubah hidupnya. Dia tak
tahu bagaimana harus menggambarkannya, tetapi saat dia mengucapkan
kata-kata itu, dia merasakan kebahagiaan dan rasa cinta memenuhi seluruh
relung hatinya dan baru empat hari kemudian dia berhenti merasa seakan-akan
tengah melayang-layang.

"Aku hampir saja menggambarkan pengalaman batinku itu sebagai coming
out, keluar, karena untuk pertama kali suatu bagian penting namun sangat
rahasia dari diriku, kini muncul dan diketahui orang lain."

Prosesi keislamannya barangkali tidak lebih dari sekadar beberapa
menit, tetapi itu adalah puncak dari sebuah pencarian yang telah dijalani
sepanjang hidupnya. Kedua orangtuanya agnostik-mereka tidak percaya akan
adanya Tuhan, dan membesarkannya dan kedua saudara perempuannya tanpa
agama supaya mereka bisa memutuskan sendiri bila dewasa nanti.

Sejak kecil dirinya sudah menyadari bahwa dia tengah mencari sesuatu,
entah apa. Pada saat-saat tertentu dia bahkan merasa seakan-akan seperti
sebuah kapal tanpa kemudi di laut yang bergolak, tak tahu ke mana harus
berlabuh. Saat mulai kuliah, Hilary muda mulai meneliti berbagai
kepercayaan yang ada. Misalnya, sebuah sistem falsafah yang dikenal sebagai
The Work, yang ternyata banyak menyontek Islam, meskipun dia belum tahu
ketika itu. Hilary juga meneliti berbagai filosofi new-age, mencoba
meditasi Budha, dan membaca berbagai buku pengembangan diri.

Di masa lalu pun hubungan dengan lawan jenis seringkali bermasalah.
Suatu kali, sesudah putus dari seorang pacar, dia baca buku karya Robin
Norwood yang berjudul Wobel Who Love Too Much. Sebenarnya Hilary sudah
pernah membacanya dan dia berpikir buku itu hanya cocok untuk
perempuan-perempuan yang terlalu tergantung kepada pacar atau suami yang justru
senang memukuli mereka. Tapi kali ini Hilary berpikir. Jangan-jangan, dia
pun sama dengan semua perempuan yang diceritakan oleh Robin Norwood
itu, maka dia pun mengerjakan semua hal yang disarankan penulisnya.

Buku itu mendorong perempuan untuk mengembangkan spiritualitasnya,
mencoba lebih menghargai diri sendiri, dan barangkali juga mengikuti
konseling. "Ini sebuah titik penting dalam perjalanan hidupku karena aku,
saat itu, juga sedang mempelajari konsep reliji yang mengajari orang
tentang kasih sayang. Benakku penuh dengan pergulatan konsep ketuhanan. Aku
terus mencari ke mana seharusnya aku melangkah secara spiritual."

Seiring berjalannya waktu, kemudian Hilary mendapatkan pacar seorang
pria Muslim. "Sebenarnya sama sekali tidak ada niatku berpacaran dengan
seorang Muslim." Kenang Hilary. Ironisnya, kebetulan saja hal ini
terjadi sesudah mereka mabuk-mabukan (bisa dibilang, pria itu adalah seorang
muslim yang saat itu tengah khilaf dan melakukan kesalahan).

"Pada saat itu, pengetahuanku nol tentang Islam. Aku tidak pernah punya
teman muslim di masa kecil dan remaja, dan hampir semua citra yang
kumiliki tentang agama ini negatif. Pada pandanganku, Islam itu kuno,
peninggalan jaman kegelapan, sangat menindas dan otoriter terhadap
perempuan. Persepsiku bahwa Islam itu sangat anti perempuan menjadi salah satu
sumber perdebatan kami. Aku menantang pacarku ketika itu untuk
menjelaskan mengapa Islam demikian anti feminis? Aku keluarkan semua argumentasi
yang biasa dikemukakan orang di Barat tentang Islam, seperti: "Islam
itu mengajari laki-laki untuk merendahkan perempuan. Kalau tidak, kenapa
Islam mengizinkan pria memiliki empat orang istri?" Serentetan hujatan
nyaris tak bisa dipatahkan pacarnya.

"Jujur saja, semua perdebatan soal Islam inilah yang membuat kami
bertahan pacaran selama empat tahun. Dia selalu berusaha mencoba menjawab
semua pertanyaanku, dan memberiku rujukan dari Al-Quran dan hadits. Aku
mulai membacanya sendiri, dan perlahan-lahan semua pertanyaanku mulai
terjawab, sampai aku tersadar bahwa banyak sekali pandanganku yang keliru
tentang Islam. Karena sedikitnya pengetahuanku-misalnya tentang bahwa
laki-laki boleh beristri empat-aku keliru menyimpulkan." Hilary mencoba
meyakinkan diri.
"Salah satu hal yang juga kalau kusadari adalah bahwa dalam Islam,
poligami bukannya didorong dan dipromosikan melainkan ditolerasi.
Kadang-kadang memang poligami menjadi kebutuhan. Tetapi selalu ada rambu-rambu
penjaganya. Kalau seorang pria menikah namun istrinya tak bisa
memberinya anak, maka ia boleh mengambil istri kedua dengan kesepakatan dari
istri pertama. (di lain pihak, bila seorang pria tidak bisa memberi anak,
maka si istri dapat meminta cerai). Bagiku, ini cara yang lebih baik
daripada yang terjadi di barat, yang memungkinkan si suami menceraikan
istri tanpa tunjangan apa pun." Terang Hilary makin mantap.

"Doktrin tentang poligami ini sebenarnya adalah untuk melindungi
wanita. Bukan untuk mendorong kaum pria mengumpulkan sekian istri untuk
berbangga-bangga. Inilah jenis pertanyaan yang aku lontarkan sendiri, lalu
aku perdebatkan sampai kehabisan jawaban sendiri. Misalnya, mengapa
perempuan membutuhkan perlindungan pria? Mengapa perempuan tak boleh
memiliki lebih dari satu suami? Aku tersadar bahwa seorang perempuan tidak
mungkin memiliki empat suami karena tentu akan sulit menentukan siapa
ayah anak-anaknya, dan para ayah itu bisa saja lalu berkelahi soal siapa
yang harus menunjang kehidupan anak-anak tersebut." Hilary lalu
tersadar, betapa sangat masuk akalnya Islam.

Beberapa waktu kemudian, Hilary dan pacarnya pisahan. Hilary lalu pergi
berlibur ke Yordania. Di sanalah dia akhirnya memutuskan untuk memeluk
Islam. Entah bagaimana caranya dia sampai pada keyakinan itu, yang
jelas tiba-tiba saja dia yakin sepenuhnya. Di tempat yang sungguh indah
itulah Hilary menyaksikan bagaimana cara sesama muslim berinteraksi,
seperti apa rasanya mendengar adzan-sungguh -sungguh dia tersentuh
karenanya.

Sekembalinya ke Inggris, dia mendaftar ke sebuah kursus mengenal Islam
selama tiga hari di Masjid Agung di Regent's Park, di utara London. Di
penghujung hari yang ketiga itulah Hilary memutuskan bahwa sudah tiba
waktunya dia bersyahadat.

Pada saat mengikuti kursus itu Hilary mendapat sejumlah teman baik.
Tentu saja, sebagian besar sahabat muslimnya ada juga yang mualaf. Tentu,
banyak sekali orang masuk Islam di Inggris-sekitar 10.000 dari 1.8 juga
Muslim di Inggris adalah mualaf berkulit putih atau Afrika Karibia.

Salah satu masalah yang mereka hadapi adalah, karena mereka tidak
tumbuh besar di tengah-tengah masyarakat Muslim, sulit bagi mereka untuk
membangun hubungan antar manusia. Islam tidak mengizinkan pacaran. Islam
memerintahkan masyarakat untuk membantu menikahkan orang-orang yang
belum menikah.

"Aku sendiri merasa akan ada kendala teknis dari pendekatan ini secara
pribadi. Tetapi aku sendiri sangat, sangat ingin menikah dan aku yakin
pada akhirnya aku akan mendapatkan seorang suami yang baik, insya
Allah." Ungkap Hilary penuh harap.

Sejak memeluk Islam, Hilary memutuskan untuk berpakaian Islami dan
mengenakan Jilbab. Di balik jilbab ada konsep mengenai perlindungan diri
dengan berpakaian secara sopan, tidak untuk memamerkan diri atau menarik
perhatian lawan jenis, serta mencegah iri hati. Islam menasihati kedua
pihak, bukan hanya perempuan, untuk berpakaian sopan.

"Saat pertama kali hendak mengenakan jilbab, aku sempat merasa cemas,
bertanya-tanya dalam hati apa kiranya reaksi orang melihatku." Itulah
bayangan yang selalu muncul di hadapannya. Namun Keyakinan Hilary telah
mengikis semua bayangan kelam itu.

"Kuingatkan diriku sendiri bahwa aku sudah mengambil sebuah komitmen,
dan jilbab adalah tanda lahiriah komitmen tersebut. Sesudah
mengenakannya, aku merasa sangat aman dan terlindungi. Aku merasa lebih menghargai
diriku sendiri. Aku merasa telah menemukan tempatku yang sesungguhnya
di dunia." Allahu Akbar

Artikel bersumber dari:

www.dakwatuna.com/index.php/kaifa-ihtadaitu/2007/aku-bahagia-dalam-islam/


Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help